Learn More….
Monday, August 20th, 2007hari ini, barusan saya ngikutin FGD (Focus group Discussion), kebetulan ini acara tempat saya kerja…dan events ini melibatkan beberapa pihak dari temen2 aktivis se-Jawa barat yang care about pluralisme..saya menangkap banyak hal dari FGD ini, mulai dari eksplorasi kasus yang berangkat dari lokalitas yang telah dipetakan, ampe nentuin program strategi kedepan apa saja yang harus dilakukan dan dimonitoring oleh temen2 yang laen….tentunya menyimak kata pluralisme sendiri masih banyak mengundang pro-kontra di mata masyarakat, walaupun saya tau konteks pluralisme sangatlah luas….kebetulan kita berangkat dari pluralisme agama yang selama ini mengundang banyak sorotan dari berbagai kalangan masyarakat…
dari eksplorasi kasus yang ada, ternyata di daerah2 di jawa barat, masih banyak terjadi pihak2 yang telah didiskriminasikan oleh paradigma yang ada….hal ini tidak terlepas dari beberapa kepentingan kelompok yang secara langsung ataupun tidak sudah menjamur di berbagai tempat…katakanlah seperti di Kuningan daerah desa lormanis…kelompok ahmadiyah menjadi bualan dan cemoohan oleh kelompok mayoritas, dan ini berkaitan erat dengan vonis MUI yang menyatakan Ahmadiyah adalah ajaran sesat…tanpa menimbang aspek historis, sosial dan budaya fatwa MUI ini dijadikan legalitas untuk mendiskriminasikan kelompok Ahmadiyah….padahal dalam konteks negara, negara menjamin kebebasan beragama warga negaranya, dan dalam perdebatan ideologinya sendiri, kita hanya bisa memahami pada level pemahaman kebenaran, karena kebenaran sendiri adalah mutlak milik Tuhan semata dan kita tahu bahwa kita dan Ahmadiyah tidaklah jauh berbeda…walaupun menyangkut hal2 prinsipal dalam pemahaman keagamaan (menanggapi nabi akhir jaman)…coba kita pikirkan ini secara objektif….yang berbeda hanyalah pemahaman tentang keagamaannya sendiri, kita tahu Ahmadiyah juga Islam, dan tentunya kita tidak bisa memvonis bahwa Ahmadiyah merupakan ajaran sesat..mengapa demikian? karena saya pikir nalar pemikiran tiap orang pasti berbeda…hal ini disebabkan bisa karena faktor2 pengalaman, pendidikan, ekonomi, ataupun budaya tiap orang berbeda-beda….kita tidak bisa memvonis bahwa kelompok mayoritaslah yang benar…walaupun esensi dasar dari suatu agama adalah adanya "klaim kebenaran"…karena kalau tidak maka akan mengalami pergeseran makna dari kata agama itu sendiri menjadi filsafat…bukan agama…dan kita tahu bahwa agama adalah hasil ekspresi budaya yang bersinggungan langsung dengan aspek2 lokal yang ada…. kita harus sadar bahwa keragaman merupakan keniscayaan yang niscaya….karena bangsa kita terdiri dari berbagai kelompok, ras, etnis, suku, budaya, agama dan golongan yang majemuk…tidak satu…dan bersifat plural….ini merupakan satu contoh yang mengindikasikan bahwa bangsa kita masih jauh dari esensi demokrasi….bangsa kita masih mundur dalam pemikiran dan perbuatan….dan saya teringat pepatah lama yang mengatakan, bahwa kalau kita ingin dihargai, hargailah orang laen terlebih dahulu….kita mesti dan harus sadar perbedaan itu mutlak ada, dan kita harusnya pada tingkat menghormati saja, memberikan toleransi kepada kelompok2 minoritas yang berbeda cara pandangnya…bukan ditingkatan mencemooh, mendiskriminasikan, menjustice, dan memvonis, bahkan melakukan kekerasan yang menyatakan bahwa mereka sesat…karena sebenarnya hal itu tidak patut kita lakukan sesama kita….sesama manusia, mereka hanyalah beberapa orang yang ingin menjalankan keyakinan dan pemahaman tentang agama dari versi mereka sendiri….biarkan perdebatan yang ada hanya pada tingkat wacana…bukan pada tingkat aksi dengan melakukan kekerasan terhadap kelompok minoritas….aduhhhh cape juga neh…akhir kata udah dulu deh…kapan2 disambung…sebenarnya masih banyak yang ingin saya poting masalah pluralisme ini sendiri, karena ga tau kenapa saya tertarik dengan isu dan wacana ini….kapan2 disambung yah temen2…..
Bentani Hotel, Aug 21 2007
12.14 am room 110….tired….